Tuesday, December 12, 2017

I'm a Digital Forensic Analyst (soon)

Assalamualaikum wr.wb.

Sesuai yang saya bilang di video saya (jika belum lihat monggo dilihat dahulu :D) saya akan melanjutkan kisah anak perempuan berumur 10 tahun yang mencari cita-citanya. Sebelumnya, saya mohon maaf (khususnya kepada guru saya, pak Imam yang memberikan saya tugas ini) karena video saya yang terlalu singkat, karena saya baru tahu jika ada durasi maksimal di web pembuat video ini. Karena saya sudah terlanjur buat sampai tengah-tengah, akhirnya pembuatan video ini tetap saya lanjutkan, daripada mubazir :).

Kembali ke topik cita-cita, seperti yang telah kita lihat di video di bawah, awalnya ada seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang masih labil, masih nggak tahu jika ditanya "kamu pengen jadi apa?", dan akhirnya dia pun mempunyai tujuan hidupnya setelah dia mendapat inspirasi dari ayahnya dan internet. Karena itulah, dia pun memiliki target untuk kuliah di jurusan Informatika di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Kenapa dia ingin menjadi ahli digital forensik? Alasan pertama: karena dia sangat menyukai komputer. Sangat suka, sampai bahasa yang menurutnya "aneh" pun tetap dia pelajari. Alasan kedua: dia terlalu banyak baca novel dan komik detektif. Anak perempuan ini sangat menyukai segala hal yang berbau detektif. Bahkan waktu dia masih kecil, dia sudah baca novel Sherlock Holmes, padahal dia tidak tahu jalan ceritanya seperti apa :D. Karena itulah, ketika komputer dan hal-hal kriminal digabungkan, jadilah pekerjaan ahli digital forensik yang dia inginkan.

Kelebihan dan kekurangan
Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tak terkecuali anak perempuan ini. Kelebihannya yaitu:

  • Pekerja keras
  • Pantang menyerah
  • Mencoba hal-hal baru
  • Dapat memotivasi dirinya sendiri.
Kekurangannya yaitu:
  • Mudah panik
  • Mudah gugup
  • Kadang suka moody (bekerja sesuai moodnya saja.
Dalam meraih cita-citanya, anak perempuan itu pun membuat list strategi yang dibutuhkannya.
Pertama, mengambil RMK (rumpun mata kuliah) komputer berbasis jaringan. Di ITS sendiri, pengambilan mata kuliah pilihan diambil pada semester 5. Karena itu, dia sudah mantap dalam pengambilan RMK yang diinginkannya.
Kedua, mengenal dan mempelajari apa yang dibutuhkan seorang ahli digital forensik. Karena dia ingin menjadi seorang ahli digital forensik yang sukses sampai ke internasional (amiin), dia pun mulai mempelajari mengenai digital forensik. Baik ilmu yang dibutuhkan, maupun sikap-sikap yang harus diterapkan. 
Ketiga, sering berpartisipasi dalam seminar dan lomba-lomba yang berhubungan dengan digital forensik. Seringkali, di kampus diadakan seminar yang berkaitan dengan digital forensik atau cyber crime. Jika ada hal tersebut, dia pun langsung ikut dan berpartisipasi tanpa pikir panjang.

Namun, terkadang anak perempuan itu merasa bimbang dengan cita-citanya. Kenapa? karena terkadang dia kewalahan dalam mengerjakan tugas kuliahnya, sampai lupa dengan pelajaran digital forensiknya.Akibatnya, sampa saat ini dia masih belum tahu apa-apa tentang digital forensik. Banyak juga orang yang berkata, "emang kamu bisa?kamu kan perempuan.". Awalnya, orang tuanya juga ragu dengan keputusan anak itu. Namun, anak itu tetap berpegang teguh pada pendiriannya, karena, selama pekerjaan itu halal, semua orang bisa melakukannya.

Dengan keyakinan yang sangat tinggi, anak perempuan itu berpikir bahwa kesempatannya untuk menjadi seorang ahli digital forensik sangaaaat tinggi. Tapii... dia juga sudah punya alternatif lain jika dia tidak bisa menjadi ahli digital forensik (untuk sekedar jaga-jaga saja, katanya),yaitu menjadi seorang programmer sukses yang bekerja di luar negeri (aaamiiin).

Delapan tahun pun berlalu, dan anak itu telah mencapai salah satu targetnya, yaitu kuliah di Informatika ITS. Sekarang anak itu menempuh semester 1 (mau semester 2, bahkan :D), dan dia masih berusaha keras dalam mencapai cita-citanya itu. Dan anak perempuan itu jugalah yang menulis artikel (lebih tepatnya cerita) ini, tidak hanya untuk kepentingan tugas dari Pak Imam, dosen mata kuliah STI, tetapi juga ingin berbagi cerita.

Dan,,, cerita ini pun selesai. Seperti yang sudah saya tulis, anak perempuan ini masih berjuang dalam meraih cita-citanya. Jadi,, kita tunggu saja sepuluh tahun lagi, ketika anak ini (baca:saya) sudah menjadi seorang ahli digital forensik yang sukses.

Wassalamualaikum wr.wb.

Meila Kamilia
05111740000189

0 komentar:

Post a Comment